“Leadership” dan “Dealership”

12 02 2010

Kepemimpinan bangsa seperti apakah yang sebenarnya dibutuhkan saat ini? Kita menghadapi kondisi yang dilematis, kepemimpinan tradisional dianggap tidak demokratis, sedangkan kepemimpinan modern rendah legitimasi. Banyak pemimpin modern hasil proses demokrasi prosedural yang hanya didukung kurang dari setengah warga yang dipimpinnya. Mereka menjadi pemimpin dengan legitimasi nominal yang rendah.

Ada juga beberapa pemimpin yang didukung kelompok besar masyarakat. Namun demikian, meskipun didukung oleh mayoritas, tidak ada jaminan bahwa mereka bisa menjadi pemimpin yang baik. Nyatanya, kita menyaksikan banyaknya pemimpin yang tidak tidak memiliki kualitas kepemimpinan dan managerial yang pantas. Banyak diantara mereka yang rendah kapasitas, rendah mentalitas, dan rendah pula moralitas.

Jika banyak masalah kronis dalam kehidupan masyarakat yang
tidak bisa diselesaikan dengan baik, sebagian kesalahan sebenarnya
bisa ditimpakan kepada para pemimpin yang tidak becus itu. Tetapi
kesalahan lain adalah tanggungjawab masyarakat pemilih. Menurut
teori elit, pemimpin adalah refleksi masyarakat yang dipimpinnya.
Masyarakat saleh akan melahirkan pemimpin saleh. Sebaliknya
pemimpin bejat adalah cermin perilaku buruk sebagian besar warga
masyarakat. Dalam konteks demokrasi prosedural saat mana
pemimpin dipilih secara langsung oleh rakyat, asumsi di atasmenemukan pembenaran. Masyarakat baik pastilah akan memilih
pemimpin baik.

Masalahnya, bagaimana caranya memilih pemimpin yang baik?
Khususnya ketika saat ini muncul gejala yang (menurut Rocky
Gerung) populer disebut dealership? Praktik dealership adalah upaya
memunculkan atau mempopulerkan calon pemimpin melalui
publikasi hasil survey atau jajak pendapat. Politik dealer bekerja
melalui lembaga-lembaga survey yang seolah-olah dapat meloloskan
seseorang untuk memenangkan Pilkada maupun Pemilu. Dengan
mekanisme ini, yang muncul bukanlah leadership tetapi dealership.

Apa yang salah dalam dalam praktik dealership melalui lembaga
survei? Kesalahan terletak pada manipulasi proses dan metode.
Secara sederhana, jika ada pertanyaan tentang siapakah pemimpin
yang paling populer, jawaban masyarakat akan tergantung pada jenis
pertanyaan dan cara bertanya. Juga tergantung pada informasi apa
yang diperoleh masyarakat dalam periode waktu tertentu. Itulah yang
dimanfaatkan dalam politik dealer. Masyarakat terus diguyur informasi
dengan kemasan ”citra baik” calon tertentu melalui iklan koran, TV,
radio, baliho, poster, dan selebaran; kemudian mereka ditanya
tentang siapakah yang paling populer dan pantas menjadi pemimpin.
Masyarakat tergiring untuk memilih pemimpin palsu. Mengapa?

Meskipun dukungan nominal sangat penting bagi legitimasi
pemimpin, popularitas saja tidaklah cukup. Kompleksitas persoalan
dan dinamika dalam politik pemerintahan menuntut adanya kapasitas
dan mentalitas kepemimpinan (leadership) yang kuat bagi setiap
pemimpin. Bahkan survei-pun membuktikan bahwa, hanya
bermodalkan popularitas saja tidaklah cukup digunakan sebagai
modal untuk memimpin. Pemimpin yang berhasil haruslah memilikikepintaran, jujur dan bisa dipercaya, memiliki empati terhadap
kondisi yang dipimpinnya, dan memiliki ketegasan dalam mengambil
keputusan.

Banyak kajian empiris tentang
kepemimpinan menunjukkan bahwa, kualitas dasar yang mutlak
harus ada pada diri seorang pemimpin adalah tanggung jawab,
memiliki visi, disiplin diri, sikap mau belajar, sikap melayani,
berpendidikan baik, dan didukung baik oleh keluarga. Pilihlah
mereka yang kira-kira tidak berambisi meraih keuntungan bagi diri
pribadi dan kelomponya saja, tetapi yang benar-benar ingin
mengabdi dan menghibahkan dirinya untuk kemajuan masyarakat.
Pilihlah mereka yang tidak sekadar golek jenang, tetapi justru lebih
mementingkan golek jeneng alias mempertaruhkan nama dan
integritasnya dalam berkarya.

Oleh karena itu, tidaklah perlu mempraktikan politik dealership
yang manipulatif. Jika seseorang memiliki kualitas dasar seperti
digambarkan di atas, pastilah masyarakat akan dengan rela hati
memilihnya menjadi pemimpin. Apalagi masyarakat Jawa mengenal
jargon yang sangat populer dalam upaya memilih pemimpin, sapa sing
ketara bakal ketari. Artinya, siapa yang kualitas dan kinerjanya terlihat
nyata, pastilah masyarakat akan menawari, meminta, dan memilihnya
menjadi pemimpin.

(Bambang Purwoko,Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM,)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: