HAKEKAT KEPEMIMPINAN

12 02 2010

Pada masa sekarang, seringkali terdengar pernyataan mengapa konsep mengenai pemimpin yang ideal pada setiap tingkatan organisasi begitu sulit dipahami. Pernyataan demikian muncul disebabkan oleh adanya kesalahpahaman mengenai konsep kepemimpinan, yang dimulai dari pandangan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki atau dicapai, atau mempersepsikannya sama dengan seseorang, posisi, dan atau jabatan.

Gregory A. Gull, sebagai pendiri Practicum Unlimited, mengatakan bahwa pemikiran mengenai konsep kepemmpinan sebagai suatu hak milik atau posisi merupakan hal yang sia-sia dan menyesatkan. Pandangan ini sesuai dengan orientasi kaum elit, membangun penghalang, melindungi hak istimewa sebagian kecil orang untuk mengarahkan atau mengendalikan nasib banyak orang, mempertahankan dan sekaligus mengistimewakan posisi pemegang kekuasaan dan mempertahankan perasaan kebergantungan dan iri hati.

Studi tentang kepemimpinan telah banyak dilakukan dan telah banyak dipublikasikan pada berbagai jurnal hasil penelitian. Semakin banyaknya publikasi tersebut, terasa semakin banyak pula celah yang dapat dicermati untuk dijadikan bahan kajian tentang sisi–sisi kepemimpinan terhadap budaya organisasi, sisi–sisi budaya organisasi yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi, dan sisi–sisi kepemimpinan yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

Sukses studi bidang kepemimpinan menunjukkan bahwa kemungkinan tidak ada topik yang lebih sukses dari pada kepemimpinan (Daft, 2000: 502). Karena itu konsep kepemimpinan terus menerus dikembangkan sebagai kebutuhan atau tuntutan dari perubahan organisasi. Di antara seluruh ide dan tulisan mengenai kepemimpinan, maka terdapat tiga (3) aspek yang menonjol dari kepemimpinan, yaitu orang-orang, pengaruh, dan tujuan. Kepemimpinan terjadi di antara orang-orang, melibatkan penggunaan pengaruh, dan dipergunakan untuk mencapai beberapa tujuan

Organisasi modern saat ini sedang mengalami sejumlah perubahan penting yang mengelilingi pencapaian kesuksesan. Penguasa-penguasa  yang tidak fleksibel, otoriter di masa lalu telah digantikan oleh pemimpin-pemimpin yang lebih partisipatif dan visioner (Lewis, et al., 2004: 23-24).

Para pemimpin dalam lingkungan usaha saat ini seharusnya tidak perlu lagi takut akan perubahan, sebaliknya para pemimpin seharusnya menyukai dan lebih proaktif dalam mempengaruhi perubahan. Seringkali para pemimpin harus bergerak dan membuat sesuatu yang dilihatnya seperti keputusan-keputusan radikal untuk menjamin kekuatan kompetitif organisasi. Secara singkat, pemimpin abad 21 harus mempunyai dasar perspektif yang luas dalam mengelola kerja kelompok dan organisasi. Model kepemimpinan 3Cs (competence, character, commitment) seperti pada Gambar 2.9 berikut memberikan kerangka kerja yang dapat diterapkan para pemimpin pada semua tingkatan organisasi. Model kepemimpinan 3Cs menyarankan agar menjadi seorang pemimpin yang efektif, maka seseorang tersebut harus kompeten, mempunyai karakter yang kuat, dan mempunyai komitmen pada komunitasnya.

Kompeten mengacu pada kepemilikan terhadap ketajaman usaha dan keterampilan atau keahlian untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seperti kemampuan menganalisis pernyataan keuangan, pengembangan perencanaan pemasaran, dan mampu berpikir secara strategik.

Karakter mengacu pada nilai-nilai dan kepemimpinan yang menimbulkan kepercayaan (trust), komitmen, dan keikutsertaan. Dengan kata lain, karakter adalah mengenai integritas, kejujuran, percaya diri, etika, dan reliabilitas. Selain itu juga mempunyai berbagai atribut seperti keberanian, disiplin, dan ketekunan.

Komunitas mengacu pada kebutuhan akan kesadaran terhadap sesuatu yang melebihi diri sendiri dan bahkan melebihi tim dan organisasi. Para pemimpin yang baik mempunyai suatu komitmen untuk mendukung komunitas di sekitarnya. Hal ini memerlukan pemahaman dari pemimpin bahwa kepemimpinan merupakan fenomena yang kompleks, yang karenanya juga merupakan gejala kemanusiaan yang universal. Kepemimpinan merupakan suatu interaksi antar anggota suatu kelompok. Pemimpin adalah agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi orang lain dari pada perilaku orang lain yang mempengaruhi pemimpin tersebut. Kepemimpinan timbul ketika satu anggota kelompok mengubah motivasi atau kompetensi anggota lainnya di dalam kelompok.

Banyaknya publikasi hasil penelitian tentang kepemimpinan, menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu masalah yang banyak diminati, dan memungkinkan lebih banyak lagi sisi-sisi kepemimpinan yang dapat diungkap.

Definisi Kepemimpinan

Bagi pemimpin yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin, maka karenanya tidak memiliki rencana untuk bertindak secara efektif setiap saat menjalankan peran tersebut, dan biasanya cenderung berfokus pada pekerjaan atau pada diri sendiri dan bukan pada karyawannya. Tak dapat disangkal bahwa pemimpin tersebut akan memimpin tanpa berpikir atau tanpa kendali, suatu pola sikap dan pendekatan yang tanpa disadari menciptakan hambatan pada motivasi dan kinerja dari para karyawan yang secara tidak sadar adalah orang yang dipimpinnya (White, 2002: 3).

Kepemimpinan merupakan ‘suatu usaha mempengaruhi orang, antar perorangan (interpersonal), lewat proses komunikasi untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan’ (Gibson, 1997: 263). Hal ini menunjukkan bahwa pola mempengaruhi karyawan atau orang lain, bagaimana komunikasi kepemimpinan dengan orang lain menjadi tolok ukur kepemimpinannya.

Leadership is the ability to influence a group toward the achievement of goals’ (Robbins, 2002: 3). Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Pengertian kepemimpinan ini menunjukkan bahwa yang mendasari seseorang menjadi seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain  sehingga orang lain mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

‘Leadership is the process of influencing others to work toward the attainment of specific goals’ (Pearche dan Robinson, 1989: 483). Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi orang lain untuk bekerja ke arah pencapaian tujuan tertentu. Sementara itu, Daft (2000: 502) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang ke arah pencapaian tujuan.  Pengaruh mempunyai makna bahwa hubungan di antara orang-orang tersebut tidak pasif, tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Selanjutnya, pengaruh tersebut didisain untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan merupakan suatu proses di mana terjadi di antara orang-orang yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Kepemimpinan merupakan suatu kegiatan orang-orang, berbeda dari gerakan kertas administratif atau kegiatan pemecahan masalah. Dengan demikian kepemimpinan adalah dinamis dan melibatkan penggunaan kekuasaan.

‘Leadership is the directing the behavior of others toward the accomplishment of some objectives. Directing in this sense, means causing idividuals to act in a certain way  or to follow a particular course’ (Certo,  1985: 319). Kepemimpinan merupakan proses mengarahkan perilaku orang lain ke arah pencapaian beberapa tujuan. Pengarahan dalam hal  ini adalah cara-cara yang dipergunakan agar orang lain mau  bertindak dalam suatu cara  tertentu atau mengikuti cara tertentu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.

Kepemimpinan adalah “perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas–aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang  ingin dicapai bersama ( shared goal )” (Hemhill dan Coons, 1957 : 7). Pengertian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin dalam memimpin pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi. Kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas–aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan” (Rauch dan Behling, 1984: 46). Dengan demikian kepemimpinan akan memunculkan pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian suatu atau beberapa tujuan tertentu” (Tannenbaum, et al., 1961: 24).

Kepemimpinan adalah “pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi” (Stogdill. 1974:  411). Pengertian ini  memberikan gambaran bahwa kepemimpinan bermula dari kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya, proses pencapaian tujuan tersebut akan mempertimbangkan adanya tingkat harapan para karyawan.

Kepemimpinan adalah “peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada orang lain, dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan–pengarahan rutin organisasi” (Katz dan Kahn, 1978: 528). Proses mempengaruhi yang diciptakan oleh seseorang merupakan suatu proses yang terus menerus dilakukan terhadap orang lain untuk memperoleh simpatinya. Pada saat simpati sudah diperoleh, para karyawan mau bekerja sama, mau melakukan sesuatu seolah atas kemauan sendiri. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques, 1990:  281). Selanjutnya, para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial, dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya (Hosking, 1988).

Definisi-definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi. Kepemimpinan adalah “Proses–proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa–peristiwa bagi para karyawan, pilihan dari sasaran–sasaran bagi kelompok atau organisasi, pengorganisasian dari aktivitas–aktiitas kerja untuk mencapai sasaran–sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan teamwork, serta perolehan dukungan dan kerja sama dari orang–orang yang berada di luar kelompok atau organisasi” (Yukl, 1997: 4). Sikap dari para karyawan terhadap pemimpin tersebut adalah indikator umum lain dari efektivitas seorang pemimpin. Dengan demikian efektivitas pemimpin diukur dalam hubungannya dengan kontribusi pemimpin terhadap kualitas.

Seperti halnya Yukl, maka Lewis et al., (2004: 402) mengatakan bahwa “leadership is an influence process; normally to influence people to achieve a command goal; leadership is not a position, title, or privilege, it is a responsibility and a process”. Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi, yang pada umumnya mempengaruhi orang-orang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan; kepemimpinan bukan suatu posisi atau hal yang istimewa, akan tetapi kepemimpinan merupakan sebuah pertanggungjawaban dan merupakan suatu proses.

Secara rinci pula, Szilagyi (1984: 431) mengatakan bahwa “leadership is a process involving two or more people in which one attempts to influence the other’s behavior toward the accomplishment of some goal or goals”. Pengertian demikian akan memberikan implikasi sebagai berikut:

  1. a. Leadership is a process; it is an ongoing activity in an organization. Kepemimpinan merupakan suatu proses, merupakan suatu kegiatan yang terus menerus dalam suatu organisasi.
  2. b. Leadership involves other people, usually in the form of subordinates. Kepemimpinan akan melibatkan orang lain, yaitu karyawan.
  3. c. The outcome of leadership is some form of goal accomplishment. Hasil kepemimpinan adalah pencapaian beberapa tujuan.

Dengan demikian, maka pada umumnya kepemimpinan itu merupakan ‘suatu proses mempengaruhi perilaku dan aktivitas dari individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan suatu proses dan bukan orang, yang meliputi tiga (3) faktor, yaitu pemimpin, karyawan, dan faktor situasi’.

Dalam konteks manajemen, seorang pemimpin merupakan seorang perencana, pengorganisasi, pengarah, dan pengawas. Oleh karena itu seorang pemimpin dituntut untuk dapat memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan kepada yang dibimbingnya. Selain itu, pemimpin juga perlu menyadari bahwa ia tidak dapat bekerja dengan hasil yang baik tanpa bekerja sama dengan yang dipimpinnya, dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

Dwivedi (dalam Syafar, 2001: 25) mengatakan bahwa kepemimpinan  sebagai suatu proses mempengaruhi orang lain untuk memobilisasi dan mengarahkan usaha mereka kepada tujuan–tujuan tertentu dan berusaha untuk mencapai tujuan–tujuan tersebut.

Winardi (2000: 47) mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seorang  yang memimpin, yang tergantung dari macam–macam faktor, baik faktor–faktor intern maupun faktor ekstern. Faktor-faktor intern dan ekstern tersebut sangat mempengaruhi kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan perilaku dan aktivitas orang lain agar bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Plunkkett dan Attner (1994: 430) mengatakan bahwa “Leadership is in its management application, is the process of influencing individuals and groups to set and achieve goals; and influence is the power to sway other people to one’s will; leadership involves three sets of variables: the leader, those being led, and the circumstances in which leadership is exercised”. Kepemimpinan sebagai aplikasi manajemen merupakan proses mempengaruhi individu dan kelompok untuk mencapai beberapa tujuan.  Mempengaruhi berarti kekuatan untuk membawahi orang lain; kepemimpinan melibatkan tiga (3) variabel yaitu pemimpin, orang yang dipimpin dan situasi.

Kepemimpinan manajerial adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas  dari anggota kelompok (Stoner, 1996: 161). Pengertian ini mempunyai implikasi sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan melibatkan orang lain (karyawan). Dengan kemauan karyawan sendiri, menerima pengarahan dari pemimpin dan membuat proses kepemimpinan menjadi mungkin tanpa orang yang dipimpin, semua mutu kepemimpinan dari seorang manajer menjadi tidak relevan.
  2. Kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata antara pemimpin dan anggota kelompok. Anggota kelompok bukannya tanpa kekuasaan, mereka dapat dan membentuk aktivitas kelompok dengan berbagai cara. Sekalipun demikian, pemimpin biasanya mempunyai kekuasaan lebih besar.
  3. Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku pengikut dengan berbagai cara. Artinya, seorang pemimpin tidak hanya harus mampu menyuruh karyawannya untuk mengerjakan sesuatu, tetapi juga dapat mempengaruhinya untuk mengikuti petunjuk dan instruksinya.
  4. Kepemimpinan menggabungkan tiga aspek pertama dan mengakui bahwa kepemimpinan adalah mengenai nilai.

Dengan demikian pemimpin adalah seorang yang mampu mempengaruhi atau mengarahkan sikap dan perilaku yang bukan hanya seorang atau sekelompok orang, akan tetapi semua orang yang ada dalam kelompoknya (Lantis: 1987).

Mintzberg (dalam Syafar, 2001: 8-9) mengatakan  bahwa:“manajer berperan sebagai orang yang difigurkan (figuread), penggerak (leader), penghubung (liaison role), pemantau (monitor role), penyebar informasi (disseminate role), juru bicara (spokesman role), wirausahawan (enterpreneur role), orang yang mampu mengatasi kesulitan (disturbance handler role),  pengalokasi sumber daya (resource allocator role), dan sebagai perunding (negotiator role)”.

Lewis et al., (2004: 204) menegaskan bahwa kepemimpinan sebagai suatu proses sosial. Kepemimpinan bukanlah sebuah posisi, jabatan, atau hak istimewa, melainkan sebuah pertanggung-jawaban dan sebuah proses; sesuatu yang dapat diteliti, dapat dipahami, dapat dipelajari; seperangkat keterampilan dan praktek-praktek yang dapat disediakan untuk setiap orang, di manapun dalam organisasi. Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang-orang secara tidak langsung melalui upaya mendorong semangat kerja sama mencapai tujuan-tujuan yang menguntungkan organisasi. Pengaruh tidak langsung dimaksudkan bahwa pemimpin yang tepat tidak harus berusaha mempengaruhi orang-orang dengan pamrih. Oleh karena itu, maka kepemimpinan memiliki sisi-sisi rasional dan emosional sebagaimana pengalaman yang pernah dialami. Dengan kata lain bahwa kepemimpinan terdiri dari tindakan dan pengaruh yang berdasar pada alasan dan logika (Hughes et al.,1996: 8). Selanjutnya dikatakan bahwa pemimpin dengan sifat-sifat, nilai-nilai atau sikap-sikap tertentu dapat lebih mudah memperoleh dan membentuk perilaku pemimpin yang efektif.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: