Mewujudkan “Manunggaling kawula lan gusti” Di Bumi Pertiwi

12 02 2010

Jikalau bangsa ini mau maju dan rakyatnya hidup sejahtera maka semua komponen bangsa ini harus saling bahu-membahu untuk bekerjasama , tidak hanya pemerintah maupun rakyatnya saja yang bekerja. Ada satu solusi yang bisa diambil oleh bangsa ini untuk maju bersama menyongsong kehidupan yang lebih berkeadilan sosial dan sejahtera. Solusi itu adalah suatu pelajaran maupun petuah dari budaya yang sudah sering kita kenal yaitu budaya jawa.

Dalam budaya jawa,kita sering mendengar pepatah atau slogan “Manunggaling kawula lan gusti” Kalimat ini pernah popular dan dipopulerkan serta menghebohkan masyarakat jawa saat itu khususnya para wali atau ulama , bahkan masih menjadi kontroversi sampai saat ini. Tokoh yang mempopulerkan kalimat tersebut adalah Sheikh Siti Jenar yang tidak asing lagi bagi kita masyarakat jawa umumnya. Tetapi kalimat “Manunggaling kawula lan gusti” dalam konteks ini bukanlah kalimat yang dimaksud oleh Sheikh Siti Jenar melainkan kalimat yang populer dalam dunia pewayangan yang kerap diperdengungkan oleh tokoh terkenal yaitu Bathara Ismaya atau yang lebih sering kita kenal dengan nama Semar. Dalam dunia pewayangan kalimat “Manunggaling kawula lan gusti” berarti menyatunya penguasa dan rakyat yang saling bersatu,bergotong-royong ,guyub-rukun, dan saling membantu untuk mewujudkan Negara dan masyarakat yang maju,sejahtera, dan makmur atau biasa disebut dalam kalimat jawa tata,titi,tentrem kertaraharja yang berarti disiplin,tertib,aman dan sejahtera

Memang mudah mewujudkan slogan atau pepatah di atas dalam dunia maya atau pewayangan tetapi juga tidak mustahil hal itu dapat juga diwujudkan dalam kehidupan banngsa ini , karena memang slogan, pepatah atau contoh-contoh yang diwujudkan dalam pewayangan tersebut ditujukan kepada kita semua agar kita mau berubah menjadi lebih baik sesuai yang diharapkan oleh para pendahulu-pendahulu kita.

Dalam mewujudkan “Manunggaling kawula lan gusti” terdapat tiga komponen penting sebagai landasan dasar terwujudnya slogan tersebut. Komponen itu adalah pemimpin, sesepuh (masyarakat) dan pemuda.

Komponen pertama yang disebut sebagai pemimpin atau yang bisa diartikan sebagai semua komponen di jajaran pemerintahan, mulai bupati, gubernur, presiden(eksekutif), wakil rakyat(legislatif), dan penegak hukum(yudikatif). Agar terwujunya “Manunggaling kawula lan gusti” yang sukses , maka seorang pemimpin harus memiliki 3 sifat dasar pemimpin yaitu 1 berwibawa , seorang pemimpin dalam memimpin suatu bangsa harus mempunyai wibawa dan wibawa itu dapat diperoleh oleh seseorang bila orang tersebut mempunyai perilaku yang terpuji dan lebih banyak(hampir 100%) berlaku benar, karena baik buruknya seseoarng dapat dilihat dari perilakuny sehari-hari. Oleh karrena itu, sebagai seorang pemimpin yang memimpin banyak orang harus punya perilaku yang baik dan mulia. 2 jujur, adil dan cerdas . Setiap pemimpin dapat mewujudkan suatu negara yang maju dan sejahtera bila pemimpinnya jujur dalam segala persoalan baik mengenai harta benda maupun persoalan-persoalan yang sedang dihadapi baik mengenai kepentingan bangsa maupun kepentingan dirinya, adil dalam segala permasalahan dan cerdas dalam menghadapi masalah-masalah yang pelik dan berorientasi pada kepentingan negara.3 Tanngung jawab, Keseriusan seorang pemimpin dapat terukur dari bagaimana seseorang mengenal dan menghayati apa itu arti tanggung jawab. Ia harus tahu bahwa kedudukan yang ia pegang adalah suatu amanah yang diberikan padanya dari Tuhan dan rakyatnya dan nantinya semua itu akan dimintai pertanggungan jawaban yang tidak semudah apa yang ia bayangkan sekarang ini.

Komponen kedua adalah sesepuh atau dalam lingkungan kita disebut orang tua yang dalam pemerintahan adalah seluruh masyarakat. Untuk mewujudkan “Manunggaling kawula lan gusti” komponen kedua yaitu sesepuh harus memiliki karakter sebagai berikut 1 selalu memberikan kontrol dan nasihat bagi pemimpinnya, masyarakat yang baik adalah masyarakat yang tidak apatis, yang tidak tahu dan bahkan tidak mau tahu tentang pemimpinnya, masyarakat yang selalu memberi nasehat kepada pemimpinnya bila pemimpinnya salah dan memberikan alternatif solusi yang mungkin bisa membantu permasalahan yang dihadapi pemimpinnya. 2 Istiqomah dan sabar. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang sabar dalam menunggu pemimpinnya untuk mewujudkan misi-misi dan visi-visinya, tidak tiba-tiba langsung marah apabila pemimpinnya tidak cepat-cepat mewujudkan janji-janjinya dulu atau tugas-tugasnya , atau bahkan merusak infrastruktur yang berfunsi untuk jalannya pemerintahan atau proyek yang masih atau sudah berjalan.3 Tauladan yang baik, masyarakat yang bisa mewujudkan “Manunggaling kawula lan gusti” adalah masyarakat yang bisa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat lain maupun pemimpinnya, masyarakat yang tidak anarkis atau merusak aset-aset negara. Sifat sesepuh dalam hal ini menyerupai tokoh semar dalam dunia pewayangan yang sangat sukses memberi nasehat dan masukan bagi pemimpinnya, bagaimana kalau bangsa ini mempunya banyak semar pasti bangsa ini akan terlepas dari segala permasalahan yang sedang dihadapi bahkan tidak menutupi kemungkinan kita akan menjadi kekuatan dunia yang akan sangat diperhitungkan dalam dunia internasional.

Komponen ketiga yang sangat mendukuna pencapaian negara yang sukses dan maju adalah komponen pemuda. Komponen pemuda ini hampir tak mungkun bisa dipisahkan dari kemajuan suatu negara, karena pemuda adalah soko guru kekuatan negara dan penjaga stabilitas suatu negara khususnya seperti di negara kita yang jumlah usia mudanya paling banyak dibanding jenjang usia lain. Jikalau pemuda dari suatu negara sudah tidak dapat diharapkan sumbangsihnya maka negara itu harus bersiap menjadi negara terperosok di dunia. Oleh karena itu, setiap pemuda harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut 1 nasionalisme , pemuda harus mempunyai rasa memiliki terhadap negara, sehingga mereka selalu berpikir apa yang telah negara berikan terhadap negara, dan bukan apa yang telah negara berikan untuk mereka. Selain itu, pemuda harus siap rela berkorban demi kepentingan bangsa dengan segenap kemampuan yang ia miliki sampai titik darah terakhir. Sebagai seorang yang nasionalismenya tinggi tidak akan mau untuk merusak dirinya sendiri atau bahkan bangsanya sendiri. Sifat kedua, yaitu 2 semangat tinggi, sebagai manusia yang berjiwa muda maka semestinya pemuda memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu, mengabdikan dirinya pada negara, dan semangat untuk selalu menuju perubahan yang lebih baik. Sifat ketiga, sebagai soko guru pertahanan negara, pemuda juga harus siap menjadi benteng negara dari segala sumber yang bersifat menghancurkan bangsa. Oleh karena itu, pemuda sejak dini harus terus mengembangkan potensinya untuk bisa membangun dan mempertahankan kedaulatan bangsanya, walaupun tidak tergabung dalam TNI dan POLRI pemuda masih bisa berbuat banyak dan mungkin lebih banyak.

Apabila setiap komponen bangsa memiliki sifat dan ciri di atas dengan menempatkan posisinya secara benar, maka “Manunggaling kawula lan gusti” yang didasari atas kesadaran diri dan kebutuhan bersama akan terwujud. Sehingga dengan adanya persatuan diantara komponen bangsa ini, maka tidak lama lagi bangsa ini yang masih tercerai berai akan bangkit dengan menatap masa depan yang cerah menuju Indonesia yang maju dan sejahtera. (Imam Sabari)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: