GAYA KERJA DAN NEGOSIASI (1)

13 02 2010

Untuk menyelesaikan tugasnya, seorang karyawan pada umumnya ti-dak dapat menghindarkan keharusan untuk berhubungan dengan orang lain. Orang lain ini berupa atasannya, bawahannya, rekan kerjanya atau bisa juga orang lain di luar perusahaannya. Tidak jarang, kemampuan berhubungan de-ngan orang lain ini memainkan peranan penting dalam keberhasilan kerja kar-yawan yang bersangkutan.

Ada anggapan bahwa keberhasilan berhubungan dengan orang lain ba-nyak tergantung pada kemampuannya mengenali sifat-sifat dari orang lain yang dihadapi. Walaupun anggapan ini ada benarnya, tetapi ada dua alasan untuk tidak terlalu kaku berpegang pada anggapan ini. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sering kali kita tidak mudah mengenali orang lain dalam waktu yang singkat. Alasan kedua adalah karena keberhasilan seseorang se-ring kali lebih banyak dipengaruhi oleh caranya menyelesaikan pekerjaan.

Ada lima pola dasar yang dapat diterapkan seseorang dalam berhu-bungan dengan orang lain :

  1. Menganggap orang lain adalah “pembantu” untuk menyelesaikan pekerja-annya / kepentingannya.
  2. Menganggap bahwa dirinya adalah “pembantu” orang lain untuk mencapai kepentingan orang lain itu.
  3. Menganggap bahwa dirinya dan orang lain itu adalah pribadi yang berdiri sendiri-sendiri yang tidak saling tergantung satu terhadap lainnya.
  4. Menganggap bahwa dirinya dan orang lain itu bersama-sama harus memi-kirkan kepentingan pihak yang lain.
  5. Menganggap bahwa dirinya dan orang lain itu adalah mitra kerja yang sa-ling memiliki kepentingan yang tergantung satu pada lainnya.

Apapun anggapan yang diyakini seseorang ketika ia berhubungan dengan orang lain, ia tetap harus disadari bahwa ketika seseorang berhubungan dengan orang lain, ia secara langsung atau tidak langsung akan terlibat dalam “perun-dingan” dengan orang lain itu khususnya jika hal-hal yang diinginkan oleh para karyawan tertentu tidak seratus persen sesuai dengan karyawan lainnya. Bahkan jika dua belah pihak mempunyai keinginan yang sama, sering kali masih dibu-tuhkan perundingan lebih lanjut untuk menyepakati cara yang akan ditempuh un-tuk mencapai keinginan masing-masing pihak.

Kenyataan menunjukkan bahwa cara melakukan perundingan akan sangat di-pengeruhi oleh anggapan dasar yang diyakini oleh orang yang bersangkutan. Cara berhubungan ini (atau bisa juga disebut cara berunding)lazim juga disebut sebagai Gaya Kerja. Tergantung dari cara yang dipakai seseorang dalam berunding, kita dapat menggolongkannya ke dalam salah satu dari lima gaya kerja utama, yaitu: Gaya Kerja Komandan, Gaya Kerja Pelayan, Gaya Kerja Bohemian, Gaya Kerja Birokrat dan Gaya Kerja Manager.

Penjelasan lebih jauh mengenai masing-masing Gaya Kerja dapat ditemukan pada bagian selanjutnya dari naskah ini.

Dengan memahami konsep Gaya Kerja dan mengenali ciri-ciri dari masing-masing Gaya, seseorang diharapkan mampu mengenali Gaya Kerja Pribadi dan Gaya Kerja rekannya, serta mampu melakukan pilihan untuk menerapkan Gaya Kerja yang sesuai dengan kondisi pekerjaan yang dihadapinya


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: