Pengertian Judicial Review

14 02 2010

Judicial Review”       (hak       uji       materil) merupakan  kewenangan  lembaga  peradilan untuk   menguji   kesahihan   dan   daya   laku produk-produk    hukum    yang    dihasilkan oleh  ekesekutif  legislatif  maupun  yudikatif di     hadapan     konstitusi     yang     berlaku. Pengujian    oleh    hakim    terhadap    produk  cabang  kekuasaan  legislatif  (legislative  acts) dan  cabang  kekuasaan  eksekutif  (executive acts)    adalah    konsekensi    dari    dianutnya prinsip   ‘checks   and   balances’ berdasarkan doktrin  pemisahan  kekuasaan  (separation  of power)1.    Karena    itu    kewenangan    untuk melakukan judicial review’ itu melekat pada fungsi    hakim    sebagai    subjeknya,    bukan pada    pejabat   lain.   Jika    pengujian    tidak dilakukan  oleh  hakim,  tetapi  oleh  lembaga parlemen,  maka  pengujian  seperti  itu  tidak dapat    disebut    sebagai    ‘judicial      review’, melainkan ‘legislative review’.

Judicial Review di   negara-negara   penganut aliran   hukum   civil   law biasanya   bersifat tersentralisasi   (centralized   system).  Negara penganut    sistem    ini    biasanya    memiliki kecenderungan      untuk       bersikap      pasti terhadap doktrin supremasi hukum. Karena itu   penganut   sistem   sentralisasi   biasanya menolak   untuk   memberikan   kewenangan ini  kepada  pengadilan  biasa,  karena  hakim biasa  dipandang  sebagai  pihak  yang  harus menegakkan    hukum    sebagaimana    yang tercantum       dalam        suatu        peraturan perundangan.   Kewenangan   ini   kemudian dilakukan  oleh  suatu  lembaga  khusus yaitu seperti Mahkamah Konstitusi.

Disisi lain, dalam  sistem yang terdesentralisasi (desentralized                     system), seperti   misalnya   diterapkan   di   Amerika Serikat, kewenangan    melakukan    judicial review atas  suatu  peraturan  dan  konstitusi diberikan    pada    organ    pengadilan    yaitu Mahkamah   Agung. Pertimbangan   untuk memberikan  kewenangan  ini pada pengadilan adalah sangat sederhana, karena pengadilan  memang   berfungsi untuk menafsirkan  hukum                   dan untuk menerapkannya dalam kasus-kasus.

Sedangkan dalam sistem   pembagian kekuasaan  (distribution  or  division  of  power) yang tidak mengidealkan prinsip ‘checks and balances’,        pengujian semacam itu,  jika diperlukan,  dianggap hanya dapat dilakukan    oleh    lembaga    yang    membuat aturan itu sendiri. Misalnya, suatu Undang- undang hanya dapat diuji oleh Presiden dan DPR yang  memang  berwenang membuatnya     sendiri.      Usul      mengenai pencabutan    suatu    Undang-Undang    bisa datang    dari    mana    saja,    tetapi    proses perubahan   ataupun   pencabutan   Undang- Undang    itu    harus    datang    dari    inisiatif Presiden  atau  DPR  sebagai  lembaga  yang mempunyai   wewenang   untuk   itu.   Itulah sebabnya,    selama    ini    dianut    pendapat bahwa     Mahkamah     Agung      berwenang menguji     materi     peraturan     di      bawah Undang-Undang,   tetapi   tidak   berwenang menguji   materi   Undang-Undang   terhadap Undang-Undang Dasar.

Pengujian  judicial  itu  sendiri  dapat  bersifat formil atau materiel (formele toetsingsrecht en materiele    toetsingsrecht)5.   Pengujian    formil biasanya terkait dengan soal-soal prosedural dan berkenaan dengan legalitas kompetensi institusi   yang   membuatnya.  Hakim   dapat membatalkan suatu  peraturan   yang ditetapkan  dengan  tidak  mengikuti  aturan resmi tentang pembentukan peraturan yang bersangkutan. Hakim  juga dapat menyatakan   batal   suatu   peraturan   yang tidak ditetapkan    oleh lembaga                                yang memang memiliki kewenangan resmi untuk membentuknya.

Sedangkan    pengujian    materiel    berkaitan dengan  kemungkinan  pertentangan  materi suatu peraturan dengan peraturan lain yang lebih        tinggi             ataupun          menyangkut kekhususan-kekhususan yang dimiliki suatu aturan  dibandingkan  dengan  norma-norma yang berlaku umum. Misalnya, berdasarkan prinsip   ‘lex   specialis   derogate   lex   generalis’, maka  suatu  peraturan  yang  bersifat  khusus dapat dinyatakan tetap  berlaku oleh  hakim, meskipun  isinya                     bertentangan                 dengan materi    peraturan    yang    bersifat    umum. Sebaliknya,    suatu    peraturan    dapat    pula dinyatakan   tidak    berlaku    jikalau    materi yang   terdapat   di   dalamnya   dinilai   oleh hakim    nyata-nyata    bertentangan    dengan norma    aturan    yang    lebih    tinggi    sesuai dengan   prinsip   ‘lex   superiore   derogate   lex infiriore’.(Dian Rositawati, S.H)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: