Ekstraktan metal garam zwitterionic

30 03 2010

Ilmuwan Inggris telah mengembangkan ligand zwitterionic salicyclaldoxime yang dapat memungkinkan secara industrial ion – ion metal penting untuk diperbaharui dari campurannya secara selektif. Beberapa molekul yang mengikat kedua ion – ion garam metal secara mandiri, yang harus ditingkatkan keefesiensiannya dari proses ekstraksi.

Sekitar 25 persen dari tembaga di dunia ini diperbaharui dengan menggunakan ekstraktan phenolic oxime konvensional, yang hanya mengikat kation tembaga, bukan pasangannya yaitu anion. Saat beberapa ekstraktan mentransfer tembaga dari suatu larutan aqueous ke fase organik, ada suatu build up asam pada fase aqueous, yang kemudian harus dinetralisir, mengkomplikasikan proses ekstraksi. Penggunaan ekstraktan metal garam menghilangkan build up asam ini dan kemudian tidak memerlukan penambahan pH apapun kata Peter Tasker dari Universitas Edinburgh. Teknologi ini pada akhirnya dapat menemukan aplikasi komersil dalam perbaikan varietas metal basa.

Tasker dan para koleganya membuat dialkylaminomethyl yang menggantikan salicyclaldoximes yang mampu mengikat suatu kation metal dan menyertai anion pada lokasi terpisah dari bentuk zwitterionic pada ekstraktan dengan membuat rakitan muatan netral. Tasker menjelaskan bahwa ‘reagent baru tersebut mengekstraksi metal garam, yang berkebalikan dengan reagent oxime konvensional yang mengangkut metal kation’ dan seabgai hasilnya tidak adanya jaring penukar dari kation atau anion, yang membuat mereka baik disesuaikan untuk mengatasi aliran limbah, tambahnya. Sebagai konsekwensinya dari struktur trans yang dibentuk oleh bis-salicyclaldoximato kompleks dari Cu(II), kompleks tersebut adalah tritopic (mereka mempunyai tiga lokasi ikatan) yang berarti bahwa metal divalent dapat dipindahkan dengan kedua mono-anions mereka bersamaan, mengarah pada naiknya efisiensi.

Struktur trans yang dibentuk oleh bis-salicyclaldoximato kompleks dari Cu(II) mempunyai tiga lokasi ikatan

‘Prinsip inti dari ilmu kimiawi supramolecular telah digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan industrial yang sangat penting’ kata Jonathan Steed, seorang ahli pada ilmu kimiawi supramolecular dari Universitas Durham, Inggris. ‘Sebagai sumber dari metal penting secara industrial menjadi meningkat sangat langka, beberapa teknik seperti ini akan memungkinkan ekstraksi metal penting dari sumber tingkat paling dasar, pada konsentrasi yang rendah atau dari struktur yang lebih komplek,’ tambahnya.

Tasker menunjukkan bahwa salah satu tantangan terbesar berkaitan dengan eksploitasi komersil pada reagent baru tersebut adalah mendapatkan penyeleksian yang tinggi dari kedua pengiriman kation dan anion. Pekerjaan ini telah menunjukkan bahwa kerjasama pengikatan kation dan anion  akan menyelesaikan permasalahan ini. Dia menambahkan bahwa kelompok ini mengharapkan unutk ‘memperluas pendekatan ini untuk pembaharuan metal mulia, lanthanides dan tinides‘.(www.chem-is-try.org)

Advertisements




Reformasi Birokrasi Menkeu Sri Mulyani Nol Besar

30 03 2010

Para ekonom mencatat dana bagi reformasi birokrasi itu merupakan pinjaman dari Bank Dunia dengan jumlah triliunan rupiah dan harus dibayar oleh rakyat.

“Hasilnya apa? Bisa dikatakan nol besar. Sebab reformasi itu artifisial, tidak komprehensif dan hanya kulit luarnya saja, serta memakai utang luar negeri dan tidak ada mekanisme pengawasan yang kuat pula,” kata mantan Menko Ekuin Rizal Ramli.

Pendapat yang sama datang dari ekonom Dradjad Wibowo. Ia mengatakan, kenaikan gaji (remunerasi) tidak pernah bisa menjadi solusi bagi pencegahan korupsi. Buktinya sudah banyak aparat bergaji tinggi, namun tetap melakukan korupsi, seperti di Dewan Perwakilan Rakyat, Bank Indonesia, Badan Penyehatan Perbankan Nasional, Bank BUMN, dan sekarang Ditjen Pajak.

Seperti diketahui, program reformasi birokrasi mulai dirintis Departemen Keuangan pada 2004, dan secara resmi dicanangkan sebagai program prioritas pada 2007. Implementasinya mencakup pada penataan organisasi, perbaikan proses layanan, dan peningkatan manajemen sumber daya manusia (SDM) melalui pemberian tunjangan khusus pembinaan keuangan negara (TKPKN) atau remunerasi.

Terkait dengan tahapan penyelesaian program reformasi birokrasi, pemerintah menambah alokasi anggaran remunerasi untuk beberapa kementerian dan lembaga dari Rp3,3 tiliun menjadi Rp13,92 triliun pada RAPBN-P 2010, dari pagu sebelumnya pada APBN 2010 sebesar Rp10,61 triliun.

Dalam hal ini, kata ekonom Iman Sugema, pemerintah perlu meninjau ulang pelaksanaan reformasi birokrasi perpajakan, termasuk skema remunerasi, karena terbukti gagal mencegah korupsi. “Masih banyak yang korupsi. Kita yakin Ditjen Pajak bukan satu-satunya,” kata ekonom Iman.

Kasus Gayus hanya bagian kecil dari puncak gunung es kasus korupsi yang terlihat di Kementerian Keuangan. Kasus ini harus menjadi momentum untuk membongkar mafia pajak, cukai, penerimaan negara bukan pajak, dan kekayaan negara di Kementerian Keuangan.

“Kalau pegawai baru golongan IIIA seperti Gayus saja sudah berani ‘menelan kerbau’, bisa dibayangkan ‘dinosaurusnya’ segede apa yang ditelan seniornya?” kata Dradjad Wibowo.

Sekali lagi, katanya, kinerja Sri Muyani sudah terbukti gagal total. Dan banyak yang mengeluhkan kesewenang-wenangan aparat pajak. Aparat pajak juga semakin lama semakin sulit tersentuh hukum.

Meledaknya kasus Gayus ini sebenarnya membuka harapan Wajib Pajak, terutama WP Badan, agar mafia pajak bisa dibongkar hingga ke akar-akarnya.

“Tapi kita pesimis, sebab Sri Mulyani tak punya kompetensi untuk mengatasi masalah itu, apalagi bawahannya. Dia banyak bicara dan pintar cari alibi untuk meyakinkan Presiden SBY yang udah kadung kagum kepadanya,” kata Nehemia Lawalata, pemerhati ekonomi-politik dan mantan sekretaris politik Prof Sumitro Djojohadikusumo. (inilah.com)





Enzim – enzim melakukan putaran

25 03 2010

Cara katalis enzim mengikat molekul guna mempercepat reaksi mereka tidaklah sesederhana apa yang seperti yang dipikirkan, kata ahli kimia dari Inggris dan Spanyol. Beberapa enzim tidak perlu mengikat dengan cara yang akan paling menstabilkan keadaan transisi reaksinya, namun terlebih dengan suatu cara yang meminimalisir keseluruhan rintangan energi bagi reaksi tersebut. Pengaplikasian ide ini untuk mendesain katalis molekular baru dapat membantu meningkatkan kinerja mereka.

Orang – orang seringkali berpikir reaksi enzim katalis dengan stabilisasi keadaan transisi, jelas Jonathan Goodman dari Universitas Cambridge. Keadaan transisi dapat dipikirkan sebagai puncak “bukit” energetik yang harus didaki bagi reaksi yang dilanjutkan – jika energi tersebut diturunkan, maka reaksi tersebut akan bergerak lebih cepat.

Namun begitu, apa yang Goodman – bersama – sama dengan Luis Simón dari Universitas Salamanca – temukan saat mereka menggali databank protein (PDB) untuk mencari pada cara apa enzim tersebut memperoleh ini, adalah bahwa kelompok ikatan hidrogen pada lokasi enzim aktif tidaklah disusun untuk memberikan stabilisasi maksimum pada keadaan transisi. ‘Ini sangatlah misterius,’ kata Goodman, ‘khususnya karena beberapa protein telah mempunyai jutaan tahun berevolusi.’

Reaksi penambahan enzim bertipe lubang oxyanion mengakatalisasi pada kelompok karbonil (C=O). Goodman menjelaskan bahwa mereka mengharapkan untuk melihat lokasi enzim aktif disusun bersama donor ikatan hidrogen pada  taraf yang samaseperti karbonil, karena ini dikenal dengan memberikan stabilisasi yang baik pada keadaan transisi. ‘Kita pikir kita mengetahui bagaimana ini bekerja, karena kita dapat melihat pada Cambridge structural database (CSD) dan melihat bagaimana ikatan hidrogen berinteraksi dengan kelompok karbonil [pada kristal molekul yang kecil].’

Ikatan planar (kiri) dari persenyawaan karbonil menstabilkan keadaan transisi yang baik, tetapi memutar ikatannya (kanan) adalah sangat baik unuk mengurangi rintangan energi

Bagaimanapun, apa yang mereka temukan dengan melihat struktur enzim adalah bahwa donor ikatan hidrogen cenderung untuk diputar keluar dari bidang karbonil. ‘Kita melakukan beberapa kalkulasi tingkat tinggi bahwa beberapa enzim tidak sedang menstabilkan kedaan transisi sebaik yang mereka bisa,’ kata Goodman, ini berarti bahwa ada beberapa alasan berbeda bagi ikatan yang berputar.

Sepasang ini menemukan bahwa ikatan pada konfigurasi bidang juga menurunkan molekul reaktan awal – landasan reaksinya – dan dengan lebih dari keadaan transisi yang diturunkan. Ini berarti bahwa keseluruhan rintangan energi – ukuran dari bukit dari molekul yang harus dilalui – sebenarnya sanagt besar. ‘Apa yang enzim lakukan adalah tidak untuk menstabilkan keadaan transisi sebaik yang mereka bisa, tetapi kunci utamanya adalah mereka tidak menstabilkan materi awal dengan sangat baik sama sekali,’ kata Goodman, ini berarti rintangan energi diminimalisir dan reaksi berlangsung dengan sangat cepat.

Eric Jacobsen, yang kelompoknya berada di Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mengembangkan dan memelajari beberapa molekul kecil dan katalis yang menyeruapai enzim, sangat menarik dalam temuannya: ‘ini merupakan salah satu dari beberapa hasil yang menggembirakan yang dapat dipertimbangkan, yang memberi anda perasaan bahwa hal ini benar adanya,’ katanya.

Goodman menambahkan bahwa studi mereka menganjurkan bahwa kita perlu memikirkan secara berbeda tentang katalis enzim, dan selebihnya mengenai katalis molekul kecil; dan mungkin saja baru, katalis yang lebih efektif dapat didesain dengan menggunakan prinsip ini.

‘Ini benar – benar ide menarik dan tentunya akan membuat orang memikirkan tentang geometri donor ikatan hidrogen pada desain katalis,’ aku Jacobsen, namun dia menambahkan bahwa sering kali katalis sintetis didesain secara selektif ketimbang hanya mempercepat reaksi saja, ‘dan berpikir bagaimana menciptakan penyusunan ikatan regangan hidrogen optimal untuk jalur satu arah melalui yang lainnya sangatlah susah, namun meski begitu ini sangatlah menarik.’

Phillip Broadwith

Referensi

L Simon and J Goodman, J. Org. Chem., 2009, DOI:10.1021/jo901503d





Penetapan kadar garam

25 03 2010

Titrasi Argentometri

Ion klorida netral dititrasi dengan larutan AgNO3 ,akan terbentuk endapan AgCl, K2CrO4. Sebagai indicator titik akhir akan membenntuk endapan Ag2CrO4 berwarna merah coklat . Seluruh AgCl akan mengendap terlebih dahulu karena kelarutannya (s) lebih kecil dari Ag2CrO4

Reaksi :

AgNO3 +    NaCl              →             AgCl +    NaNO3

2 AgNO3 +    K2CrO4 →    Ag2CrO4 +    2 KNO3

Cara Kerja :

  1. Sisa penetapan kadar lemak dilarutkan dalam 100 ml air hangat, kemudian diaduk.
  2. Dibiarkan hinggá mengendap , lalu dipipet 10 ml ke dalam erlenmeyer.
  3. Ditambahkan 3-5 tetes kalium kromat.
  4. Lalu dititar  dengan AgNO3 0,171 N diperoleh titik akhir ( terbentuk endapan merah bata).

Perhitungan :

garam

(www.chem-is-try.or)





Menangkap karbon dengan tembaga

23 03 2010

Sebuah tim peneliti di Belanda membuat suatu perangkap yang dapat membuang karbon dioksida keluar dari udara.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Elisabeth Bouwman pada Leiden Institute of Chemistry di Universitas Leiden, telah mengembangkan selective copper complex – predisposed untuk menangkap CO2 dan meniadakan gas – gas atmospheric lainnya. Sama pentingnya, CO2 yang terperangkap dapat dipindahkan melalui elektrokimiawi, dengan membutuhkan potensi listrik relatif kecil untuk menggantikan elektron – elektron yan hilang.

Suatu larutan dari perunggu kompleks ini menyerap karbon dioksida saat terekspos ke udara. Kompleks ini mempunyai dua lokasi ikatan. Saat tim ini memahami prosesnya, atom – atom oksigen dari molekul CO­2 yang datang mengikat pada setiap atom – atom tembaga. Atom – atom karbon dari dua molekul mengikat satu dengan lainnya, dengan menciptakan suatu jembatan oksalat antara kedua ion – ion tembaga tersebut.

Kompleks perunggu dinuclear (I) teroksidasi ke udara oleh karbon dioksida ketimbang oksigen

Untuk menghilangkan oksalat sehingga kompleks tembaga dapat berputar keliling, tim ini menambahkan garam lithium pada larutan dan diaplikasikan potensial relatif -0.03V terhadap elektroda hidrogen normal. Ikatan lithium oksalat, conveniently precipitating out of the solution, dan  potensialnya, mengurangi ion – ion perunggu. Selama tujuh jam pekerjaan, tim ini menyelesaikan pemindahan enam lingkaran karbon dioksida, CO2 yang bergelembung dalam larutan kompleks perunggu dan kemudian memindahkan oksalat dengan garam, yang menunjukkan bahwa kompleks perunggu tersebut merupakan CO2 scrubber yang dapat digunakan.

Karbon dioksida terikat diantara dua molekul tembaga kompleks dan dirubah ke oksalat

Selama tiga jam ini seperti keajaiban kecil, tetapi setelah itu, oksalat lithium build-up mulai menekan elektroda – elektroda tersebut. Praktisnya, lapisan endapan akan dihasilkan, dan oksalat tersebut bisa diubah kedalam bahan kimia yang bermanfaat seperti methanol, formaldehyde, ethylene glycol, anti beku, atau asam oksalis, yang digunakan dalam restorasi kayu dan beberapa alat pembersih rumah tangga.

‘Studi kami murni sesuatu yang fundamental dan hasil temuannya akan memerlukan banyak sekali studi – studi tambahan sebelum hal ini mungkin dapat diaplikasikan pada bidang perindustrian,’ kata Bouwman. Kebutuhan bagi sebuah listrik potensial berarti bahwa penangkapan karbon akan tetap berlangsung.

‘Artikel ini menjelaskan suatu porsi yang impresif dari ilmu kimia anorganik,’ kata Johannes Notni, seorang ahli dalam kekomplekan metal pada transisi ikatan karbon dioksida pada Technical University of Munich, Jerman. Namun begitu, dia yakin bahwa kimiawi manusia tidak akan pernah dapat melakukan keefesiensian alamiah dalam mengubah karbon dioksida menjadi bahan bakar. ‘Dengan tujuan untuk melakukan yang terbaik dalam perlindungan cuaca, hal ini muncul sebagai hal yang paling menjanjikan untuk mengurangi sedikit sekali proses fotosintetis pada perindustrian – dengn kata lain, untuk menjaga hutan hujan dan habitat alamiah lainnya tercemar karbon dioksida.’

Kate McAlpine(http://www.chem-is-try.org)





Menimbang untung-rugi CAFTA

23 03 2010

China, negara raksasa yang dihuni 1,3 miliar penduduk, telah tumbuh sebagai kekuatan baru ekonomi dunia. Laurence J Brahm menyatakan dalam bukunya bahwa abad 21 adalah ”Abadnya Tiongkok”. Bagaimana tidak, dengan jumlah manusia yang hampir mencapai 1/5 populasi dunia itu China telah membuktikan dirinya mampu mengelola perekonomian dengan cerdas.

Pertumbuhan ekonomi China dalam lima tahun terakhir mencapai angka yang fantastis, yaitu tumbuh rata-rata 10,6%. Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9,6%, melampaui cukup jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara kuat lainnya seperti Amerika Serikat yang hanya tumbuh 1%, Jepang minus 1,2%, dan India 6,7%. Bahkan pada 2010 ini China akan merebut posisi pertama menggantikan negara Jerman sebagai negara eksportir terbesar di dunia.

Perjanjian Free Trade Area antara China dan ASEAN (CAFTA) sejatinya ditandatangani pada November 2002. Jika melihat secara waktu seharusnya kita memiliki cukup persiapan untuk menghadapainya. Karena selama 7 tahun sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut setidaknya para pelaku usaha dan pemerintah selaku pembuat kebijakan bisa membaca dan memprediksi situasi yang akan terjadi apabila perjanjian ini nantinya diterapkan. Namun sayangnya, dan ini mungkin juga sifat khas bangsa kita yang suka ribut di akhir ketika semuanya akan terjadi, para pelaku usaha di beberapa sektor mengeluh tidak siap dengan CAFTA meski jauh-jauh hari kondisi seperti ini bisa diprediksi.

Sebenarnya FTA sendiri sudah perlahan-lahan bergulir sejak 2004, saat tiap tahun pemerintah Indonesia terus mengurangi besaran/persen bea masuk (BM) produk impor dari China. Dalam 5 tahun terakhir, sekitar 65% produk impor dari China telah mendapat stempel BM nol persen dari Dirjen Bea & Cukai. Dan pada Januari 2010 ini, sebanyak 1.598 atau 18% produk China akan mendapat penurunan tarif BM sebesar 5% dan sebanyak 83% dari 8738 produk impor China akan bebas masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenai BM sepersen pun di awal tahun ini.

Dengan pembebasan bea masuk ini maka gelombang produk Made in China akan membanjiri pasar domestik yang sebelumnya juga sudah luber dengan produk-produk asing. Jangankan bebas bea masuk, dengan kondisi tarif saja komoditas asing sudah menguasai 50% market share di pasar domestik dan 40%-nya berasal dari negeri China.

Kalau dulu ada joke, sejak bangun tidur sampai tidur lagi kita tak bisa lepas dari produk Jepang, mungkin nanti kondisi tersebut akan tergantikan dengan everything is made in China. Kita dibangunkan oleh alarm jam merk China, bebersih diri dengan toiletries asal China, bikin makan atau minum yang wadahnya made in china, koneksi internet dengan modem Huawei atau ZTE, dan seterusnya hingga kita mau tidur lagi ditemani oleh AC Chang-Hong yang murah meriah.

Jika kita bicara dampak tentu tidak fair jika FTA ini hanya dilihat dari sisi negatifnya saja. Sebab ada juga dampak positif jika perjanjian ini dilaksanakan. Yang pertama adalah dengan FTA ini akan terbangun blok perekonomian regional yang lebih kuat sebagai balance of power blok Uni-Eropa dan Amerika utara dimana Indonesia berada dalam kekuatan tersebut. Kedua, akan terjadi peningkatan output produksi negara-negara ASEAN. Ketiga, CAFTA akan mendorong peningkatan daya saing industri dalam negeri lewat efisiensi dan pembenahan struktur biaya. Dan yang terakhir perdagangan bebas menguntungkan bagi konsumen domestik yang merupakan kelompok terbesar rakyat di negeri ini. Konsumen akan menikmati tersedianya pilihan yang lebih banyak terhadap barang-barang dengan harga lebih murah di pasaran. Untuk kasus Indonesia, faktor terakhir ini sangat penting karena perilaku sebagian besar konsumen negeri ini sangat sensitif terhadap harga.

Salah satu contoh misalnya sektor properti, dengan berlangsungnya perdagangan bebas CAFTA maka diprediksi biaya membangun properti akan lebih murah dikarenakan bahan baku yang tersedia di pasaran lebih banyak pilihan dan harga murah pula terutama untuk besi baja dan semen. Bagi produsen domestik pun yang berada di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan juga dimungkinkan menikmati manisnya FTA ini dikarenakan komponen input dalam produksi mereka seperti pupuk, pakan ternak yang selama ini banyak diimpor dari negara ASEAN akan menjadi lebih murah harganya dan meningkatkan daya saing produk kita untuk ekspor.

Sedangkan dampak negatifnya dan ini yang paling banyak dimunculkan dalam wacana akhir-akhir ini adalah limbungnya beberapa sektor industri dalam negeri terutama yang memiliki daya saing rendah. Kondisi sektor-sektor tersebut yang belum cukup siap akan menyebabkan terjadinya deindustrialisasi secara besar-besaran meski ada kemungkinan mereka akan memilih ganti profesi menjadi pedagang.

Untuk negara dengan jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ini jelas merupakan kerugian tersendiri karena dengan potensi itu seharusnya kita membangun perekonomian berbasis produksi bukan perdagangan.

Celakanya lagi industri-industri tersebut diatas adalah jenis industri padat karya yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja. Sehingga dampak kedua adalah bayang-bayang ancaman PHK massal. Dan yang ketiga adalah dari segi fiskal diprediksi pos penerimaan negara akan kehilangan potensi sebesar 15 trilyun dengan diterapkannya perdagangan non tarif tersebut.
Sebuah nominal yang setara dengan anggaran program Bantuan Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin) di tahun 2009.

Jika harus head to head dengan China jelas kita lebih banyak kekurangannya dibandingkan keunggulannya. Pertama dari sisi kebijakan fiskal, Industri kita terbebani oleh banyaknya tarif dalam struktur biayanya. Di luar pungutan pengusaha juga masih dililit masalah prosedur perizinan yang high cost economy.

Yang kedua adalah dari sisi infrastruktur. Fasilitas jalan , pelabuhan, dan listrik kita jauh tertinggal di bawah China. Jelas efisiensi industri dan kelancaran roda ekonomi akan sulit tercapai tanpa dukungan infrastruktur yang baik.

Masalah ketiga adalah kualitas tenaga kerja. Tidak bisa dipungkiri dengan jumlah penduduk demikian berlimpah tentu pasar tenaga kerja di China lebih kompetitif dibandingkan kita. Namun tidak berhenti sampai disitu saja, kini China mulai lebih selektif menggiring investasi ke industri yang menghasilkan high end products dan padat modal. Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.

Menimbang berbagai keuntungan dan ancaman sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentunya pemerintah sebagai policy maker harus cermat memperhitungkannya. Tidak mudah tentunya, karena dalam ekonomi selalu ada trade off. Tidak ada kebijakan yang menguntungkan dan menyenangkan semua pihak. Pasti ada pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, tinggal bagaimana menghitungnya agar manfaat selalu lebih luas dari mafsadat. Sebagaimana kaidah fiqh menyebutkan Tasharaful imam ’alaa ra’iyah manuutun bil maslahah, tindakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus berlandaskan maslahat. Wallahu ’alam bisshowab.

M. Sabeth Abilawa (Kepala Divisi Advokasi Dompet Dhuafa Republika)





Menemukan warna Hijau di Emas

23 03 2010

Suatu materi emas nanoporous baru disiapkan dengan memindahkan perak dari alloy emas-perak secara selektif mengkatalisasi produksi suatu persenyawaan penting secara industrial dibawah kondisi yang ringan, menurut sebuah tim peneliti di Jerman dan Amerika Serikat (Science 2010, 327, 319). Studi selanjutnya memperluas daftar reaksi katalik yang tumbuh secara cepat dari emas. Ini juga dapat membantu usaha – usaha untuk menggantikan proses industri kimiawi dengan sedikit zat berbahaya dan “lebih hijau”.

Hanya beberapa tahun saja, reputasi emas sebagai suatu metal nonkatalis lembam telah melakukan perubahan yang komplit, sebagaimana beberapa kelompok peneliti telah menemukan sejumlah reaksi yang meliputi berbagai macam tipe oksidasi yang terkatalisasi oleh emas pada bentuk struktur nano. Meskipun begitu, aplikasi komersil telah dihambat oleh kelambatan emas itu sendiri untuk mendisosiasi oksigen yang mana suatu langkah kunci  oksidasi dan tendensi partikel – partikel nano untuk mengelompokkan dibawah kondisi reaksi tipikal. Proses tersebut secara cepat memendekkan usia katalis yang mendukung seperti emas, yang biasanya beredar pada permukaan oksida padat.

Katalis baru memberikan suatu cara pada beberapa permasalahan tersebut. Dengan memperlakukan alloy emas-perak denagn asam nitrit, para peneliti membentuk suatu katalis emas monolotik yang tidak mendukung dan stabil yang terdiri dari jaringan tiga dimensi ligamen struktur nano. Tim ini, meliputi Arne Wittstock, Volkmar Zielasek, dan Marcus Bäumer dari Universitas Bremen, di Jerman; Cynthia M. Friend dari Universitas Harvard; dan para rekan kerjanya, menemukan bahwa pada suhu yang rendah dan oksigen 1, materi nanoporous mengkatalisasi penggandaan oksidatif dari methanol untuk menghasilkan methyl formate. Persenyawaan tersebut digunakan secara komersil sebagai suatu larutan dan agen peniup dan sebagai pelopor bagi asam formic dan dimethylformamide. Ini disiapkan secara industrial dalam suatu proses yang menggunakan karbon monoksida, methanol, basa kaustik, dan sodium metalik.

Pada suhu ruangan, emas dengan reaksi terkatalisasi 100% selektif tetapi bekerja secara lembam, laporan dari tim ini. Meningkatkan suhu dengan hanya 80 °C mempercepat rekasi tersebut, meningkatkan konversi methanol beberapa kali lipat, dan hanya sedikit mengurangi pemroduksian secara selektif sekitar 3% gas CO2, menurut para peneliti. Mereka menjelaskan bahwa katalis tetap stabil dan aktif selama pengujian yang bekerja terus menerus selama beberapa periode dari beberapa hari sampai minggu. Sebagai tambahan, dasar eksperimen tersebut dengan membandigkan serangkaian contoh – contoh ter-de-alloy, tim ini menyimpulkan bahwa fraksi kecil dari residu perak meningkatkan rekatifitas katalis emas dengan menunjukkan disosiasi oksigen.

“Ini mencoba untuk mengasumsikan ” bahwa hasil dari tipe katalis emas dengan residu perak sangat baik ketimbang katalis emas murni yang digunakan sebelum reakasi oksidasi, Claus H. Christensen dari pabrikan katalis Denmark,  Haldor Topsøe dan Jens K. Nørskov dari Universitas  Technical of Denmark menyebutkan dalam sebuah komentarnya tentang pekerjaan ini. Pekerjaan lebih lanjut diperlukan, tetapi kemajuan ini dapat memindahkan katalis emas berwarna hijau lebih dekat lagi pada aplikasi perindustrian, kata mereka. (www.chem-is-try.org)