Menemukan warna Hijau di Emas

23 03 2010

Suatu materi emas nanoporous baru disiapkan dengan memindahkan perak dari alloy emas-perak secara selektif mengkatalisasi produksi suatu persenyawaan penting secara industrial dibawah kondisi yang ringan, menurut sebuah tim peneliti di Jerman dan Amerika Serikat (Science 2010, 327, 319). Studi selanjutnya memperluas daftar reaksi katalik yang tumbuh secara cepat dari emas. Ini juga dapat membantu usaha – usaha untuk menggantikan proses industri kimiawi dengan sedikit zat berbahaya dan “lebih hijau”.

Hanya beberapa tahun saja, reputasi emas sebagai suatu metal nonkatalis lembam telah melakukan perubahan yang komplit, sebagaimana beberapa kelompok peneliti telah menemukan sejumlah reaksi yang meliputi berbagai macam tipe oksidasi yang terkatalisasi oleh emas pada bentuk struktur nano. Meskipun begitu, aplikasi komersil telah dihambat oleh kelambatan emas itu sendiri untuk mendisosiasi oksigen yang mana suatu langkah kunci  oksidasi dan tendensi partikel – partikel nano untuk mengelompokkan dibawah kondisi reaksi tipikal. Proses tersebut secara cepat memendekkan usia katalis yang mendukung seperti emas, yang biasanya beredar pada permukaan oksida padat.

Katalis baru memberikan suatu cara pada beberapa permasalahan tersebut. Dengan memperlakukan alloy emas-perak denagn asam nitrit, para peneliti membentuk suatu katalis emas monolotik yang tidak mendukung dan stabil yang terdiri dari jaringan tiga dimensi ligamen struktur nano. Tim ini, meliputi Arne Wittstock, Volkmar Zielasek, dan Marcus Bäumer dari Universitas Bremen, di Jerman; Cynthia M. Friend dari Universitas Harvard; dan para rekan kerjanya, menemukan bahwa pada suhu yang rendah dan oksigen 1, materi nanoporous mengkatalisasi penggandaan oksidatif dari methanol untuk menghasilkan methyl formate. Persenyawaan tersebut digunakan secara komersil sebagai suatu larutan dan agen peniup dan sebagai pelopor bagi asam formic dan dimethylformamide. Ini disiapkan secara industrial dalam suatu proses yang menggunakan karbon monoksida, methanol, basa kaustik, dan sodium metalik.

Pada suhu ruangan, emas dengan reaksi terkatalisasi 100% selektif tetapi bekerja secara lembam, laporan dari tim ini. Meningkatkan suhu dengan hanya 80 °C mempercepat rekasi tersebut, meningkatkan konversi methanol beberapa kali lipat, dan hanya sedikit mengurangi pemroduksian secara selektif sekitar 3% gas CO2, menurut para peneliti. Mereka menjelaskan bahwa katalis tetap stabil dan aktif selama pengujian yang bekerja terus menerus selama beberapa periode dari beberapa hari sampai minggu. Sebagai tambahan, dasar eksperimen tersebut dengan membandigkan serangkaian contoh – contoh ter-de-alloy, tim ini menyimpulkan bahwa fraksi kecil dari residu perak meningkatkan rekatifitas katalis emas dengan menunjukkan disosiasi oksigen.

“Ini mencoba untuk mengasumsikan ” bahwa hasil dari tipe katalis emas dengan residu perak sangat baik ketimbang katalis emas murni yang digunakan sebelum reakasi oksidasi, Claus H. Christensen dari pabrikan katalis Denmark,  Haldor Topsøe dan Jens K. Nørskov dari Universitas  Technical of Denmark menyebutkan dalam sebuah komentarnya tentang pekerjaan ini. Pekerjaan lebih lanjut diperlukan, tetapi kemajuan ini dapat memindahkan katalis emas berwarna hijau lebih dekat lagi pada aplikasi perindustrian, kata mereka. (www.chem-is-try.org)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: