Menimbang untung-rugi CAFTA

23 03 2010

China, negara raksasa yang dihuni 1,3 miliar penduduk, telah tumbuh sebagai kekuatan baru ekonomi dunia. Laurence J Brahm menyatakan dalam bukunya bahwa abad 21 adalah ”Abadnya Tiongkok”. Bagaimana tidak, dengan jumlah manusia yang hampir mencapai 1/5 populasi dunia itu China telah membuktikan dirinya mampu mengelola perekonomian dengan cerdas.

Pertumbuhan ekonomi China dalam lima tahun terakhir mencapai angka yang fantastis, yaitu tumbuh rata-rata 10,6%. Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9,6%, melampaui cukup jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara kuat lainnya seperti Amerika Serikat yang hanya tumbuh 1%, Jepang minus 1,2%, dan India 6,7%. Bahkan pada 2010 ini China akan merebut posisi pertama menggantikan negara Jerman sebagai negara eksportir terbesar di dunia.

Perjanjian Free Trade Area antara China dan ASEAN (CAFTA) sejatinya ditandatangani pada November 2002. Jika melihat secara waktu seharusnya kita memiliki cukup persiapan untuk menghadapainya. Karena selama 7 tahun sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut setidaknya para pelaku usaha dan pemerintah selaku pembuat kebijakan bisa membaca dan memprediksi situasi yang akan terjadi apabila perjanjian ini nantinya diterapkan. Namun sayangnya, dan ini mungkin juga sifat khas bangsa kita yang suka ribut di akhir ketika semuanya akan terjadi, para pelaku usaha di beberapa sektor mengeluh tidak siap dengan CAFTA meski jauh-jauh hari kondisi seperti ini bisa diprediksi.

Sebenarnya FTA sendiri sudah perlahan-lahan bergulir sejak 2004, saat tiap tahun pemerintah Indonesia terus mengurangi besaran/persen bea masuk (BM) produk impor dari China. Dalam 5 tahun terakhir, sekitar 65% produk impor dari China telah mendapat stempel BM nol persen dari Dirjen Bea & Cukai. Dan pada Januari 2010 ini, sebanyak 1.598 atau 18% produk China akan mendapat penurunan tarif BM sebesar 5% dan sebanyak 83% dari 8738 produk impor China akan bebas masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenai BM sepersen pun di awal tahun ini.

Dengan pembebasan bea masuk ini maka gelombang produk Made in China akan membanjiri pasar domestik yang sebelumnya juga sudah luber dengan produk-produk asing. Jangankan bebas bea masuk, dengan kondisi tarif saja komoditas asing sudah menguasai 50% market share di pasar domestik dan 40%-nya berasal dari negeri China.

Kalau dulu ada joke, sejak bangun tidur sampai tidur lagi kita tak bisa lepas dari produk Jepang, mungkin nanti kondisi tersebut akan tergantikan dengan everything is made in China. Kita dibangunkan oleh alarm jam merk China, bebersih diri dengan toiletries asal China, bikin makan atau minum yang wadahnya made in china, koneksi internet dengan modem Huawei atau ZTE, dan seterusnya hingga kita mau tidur lagi ditemani oleh AC Chang-Hong yang murah meriah.

Jika kita bicara dampak tentu tidak fair jika FTA ini hanya dilihat dari sisi negatifnya saja. Sebab ada juga dampak positif jika perjanjian ini dilaksanakan. Yang pertama adalah dengan FTA ini akan terbangun blok perekonomian regional yang lebih kuat sebagai balance of power blok Uni-Eropa dan Amerika utara dimana Indonesia berada dalam kekuatan tersebut. Kedua, akan terjadi peningkatan output produksi negara-negara ASEAN. Ketiga, CAFTA akan mendorong peningkatan daya saing industri dalam negeri lewat efisiensi dan pembenahan struktur biaya. Dan yang terakhir perdagangan bebas menguntungkan bagi konsumen domestik yang merupakan kelompok terbesar rakyat di negeri ini. Konsumen akan menikmati tersedianya pilihan yang lebih banyak terhadap barang-barang dengan harga lebih murah di pasaran. Untuk kasus Indonesia, faktor terakhir ini sangat penting karena perilaku sebagian besar konsumen negeri ini sangat sensitif terhadap harga.

Salah satu contoh misalnya sektor properti, dengan berlangsungnya perdagangan bebas CAFTA maka diprediksi biaya membangun properti akan lebih murah dikarenakan bahan baku yang tersedia di pasaran lebih banyak pilihan dan harga murah pula terutama untuk besi baja dan semen. Bagi produsen domestik pun yang berada di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan juga dimungkinkan menikmati manisnya FTA ini dikarenakan komponen input dalam produksi mereka seperti pupuk, pakan ternak yang selama ini banyak diimpor dari negara ASEAN akan menjadi lebih murah harganya dan meningkatkan daya saing produk kita untuk ekspor.

Sedangkan dampak negatifnya dan ini yang paling banyak dimunculkan dalam wacana akhir-akhir ini adalah limbungnya beberapa sektor industri dalam negeri terutama yang memiliki daya saing rendah. Kondisi sektor-sektor tersebut yang belum cukup siap akan menyebabkan terjadinya deindustrialisasi secara besar-besaran meski ada kemungkinan mereka akan memilih ganti profesi menjadi pedagang.

Untuk negara dengan jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ini jelas merupakan kerugian tersendiri karena dengan potensi itu seharusnya kita membangun perekonomian berbasis produksi bukan perdagangan.

Celakanya lagi industri-industri tersebut diatas adalah jenis industri padat karya yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja. Sehingga dampak kedua adalah bayang-bayang ancaman PHK massal. Dan yang ketiga adalah dari segi fiskal diprediksi pos penerimaan negara akan kehilangan potensi sebesar 15 trilyun dengan diterapkannya perdagangan non tarif tersebut.
Sebuah nominal yang setara dengan anggaran program Bantuan Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin) di tahun 2009.

Jika harus head to head dengan China jelas kita lebih banyak kekurangannya dibandingkan keunggulannya. Pertama dari sisi kebijakan fiskal, Industri kita terbebani oleh banyaknya tarif dalam struktur biayanya. Di luar pungutan pengusaha juga masih dililit masalah prosedur perizinan yang high cost economy.

Yang kedua adalah dari sisi infrastruktur. Fasilitas jalan , pelabuhan, dan listrik kita jauh tertinggal di bawah China. Jelas efisiensi industri dan kelancaran roda ekonomi akan sulit tercapai tanpa dukungan infrastruktur yang baik.

Masalah ketiga adalah kualitas tenaga kerja. Tidak bisa dipungkiri dengan jumlah penduduk demikian berlimpah tentu pasar tenaga kerja di China lebih kompetitif dibandingkan kita. Namun tidak berhenti sampai disitu saja, kini China mulai lebih selektif menggiring investasi ke industri yang menghasilkan high end products dan padat modal. Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.

Menimbang berbagai keuntungan dan ancaman sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentunya pemerintah sebagai policy maker harus cermat memperhitungkannya. Tidak mudah tentunya, karena dalam ekonomi selalu ada trade off. Tidak ada kebijakan yang menguntungkan dan menyenangkan semua pihak. Pasti ada pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, tinggal bagaimana menghitungnya agar manfaat selalu lebih luas dari mafsadat. Sebagaimana kaidah fiqh menyebutkan Tasharaful imam ’alaa ra’iyah manuutun bil maslahah, tindakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus berlandaskan maslahat. Wallahu ’alam bisshowab.

M. Sabeth Abilawa (Kepala Divisi Advokasi Dompet Dhuafa Republika)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: